Perlukah Kecerdasan Ekologis Seorang Pelatih ?
Disclaimer : Tulisan ini merupakan sudut pandaang penulis. Benar / salah silahkan pembaca yang menilai.
Saya mengutip kalimat dari Gardner (2013, hlm. 34) menyebut kecerdasan ekologis dengan istilah kecerdasan naturalis. Kecerdasan seseorang yang memahami lingkungan sekitar kemudian ia mampu merespon-beradaptasi dengan situasi yang ada.
Seorang pelatih di level pembinaan usia dini (dalam hal ini mulai dari 14th) setidaknya perlu memahami 2 hal yaitu : objek seperti apa yang dilatih dan potensi (kelebihan) masing-masing pemain. Sehingga bentuk latihan yang disajikan setiap pekan menyesuaikan kedua hal tersebut. Maka, yang dilatih pada usia dini tidak lepas dari rangkaian latihan basic seperti cara passing yang benar, kontrol yang benar, ball feeling, bahkan cara berlari atau bergerak yang benar. Tujuan latihan tersebut bukan untuk mencari kemenangan, melainkan membuat pemain berisi dan siap bersaing di top level pada waktu yang tepat.
Begitu halnya dengan para pelatih profesional. Seorang Mourinho perlu menonton calon tim yang dia latih sebanyak lebih dari 10x sebelum ia bergabung di latihan. Ia perlu mengenal profil tim, melihat kondisi tempat latihan beserta infrastrukturnya, mempelajari manajemen tim bekerja, sehingga ia mendapat visualisasi terhadap apa yang ia akan kerjakan. Menurut penulis, salah satu kegagalan seorang pelatih top level adalah tidak berhasilnya merespon-beradaptasi dengan situasi yang ada di tim. Terlalu idealis mungkin diperlukan, tapi tidak semua dapat berjalan dengan baik ketika prinsip-prinsip yang kita pegang tidak cocok dengan situasi yang ada.
Dengan kata lain, seorang pelatih harus lebih realistis melihat kondisi pemain, tim, dan lingkungan sekitar. Seorang pelatih harus paham dimana ia berada. Di jenjang apa ia berkecimpung. Sehingga, proses latihan dan tujuan tim tidak bias.
Komentar
Posting Komentar